Google
 

Kamis, 28 Februari 2008

Gong Xi Fa Choi




walaupun ga merayakan gong xi fa chai. tapi perlengkapan gong xi fa coi nya deven lengkap banget. baju + topi. jadi foto2 deh buat taun baru ini hehehehe... terus kita jalan2 mendatangi tante yang melahirkan. bayinya lucu lho bobo terus.

gimana penampilanku dengan seragam gong xi-ku ini keren ga... mommy nihh payah ya ga bisa nulis2 di blog nulis2 jg.. dari dulu kata2nya cuma gimana gayaku gimana gayaku. udah deh mommy ga punya bakat nulis jangan nulis2 di blog khihkhihkhi. udah gitu naruh fotoku acak2an lagi.. huuuu mommy.. mommy

Rabu, 27 Februari 2008

How do I look???


my dearest son deven has spoken so many many words.
dah bisa diajak bicara, dimintain tolong cari remote, HP secara mommy n daddynya pikun n pelupa and deven dengan sukses menemukannya.. AMAZING!!!.. dia dengan tekun mencari dibalik2 bantal, dibalik kertas, tumpukan CD.. cool. sekarang kalo daddy-nya nanya remote, mommy tinggal bilang "tuhh tanya deven aja.. nanti jg dia bantuin nyari. ketemu deh".. deven ini sekarang ngambeg terus. kalo permintaannya ga dituruti dia teriak2.. tapi abis itu langsung diem. terus deven paling rajin nyapu. semua disapu, rumah, mobil... terus dibeliin mobil2 bukan senengnya menyetir tapi lebih kepada menjadi montir hehehe

20 Tips Sukses Pilihan dari Donald Trump

www.monukatanu.com

1. Think big
2. Be positive
3. Follow your passion
4. Learn something new every day
5. Listen to your gut
6. Be patient
7. Put a great team behind you
8. Put beauty in everything you do
9. Learn to negotiate, because everything you want demands it
10. Always go for the biggest win possible
11. Invest in real estate because it is the best investment there is
12. Take risks
13. Be audacious and get into the public eye
14. Be your own brand
15. Enjoy doing some work seven days a week and on vacations
16. Say no
17. Get out of your comfort zone
18. Be stubborn when necessary
19. Always have a Plan B
20. Never settle for second best

AIMI : Kembali ke ASI sebagai Nutrisi Terbaik untuk Bayi

AIMI : Kembali ke ASI sebagai Nutrisi Terbaik untuk Bayi

Ditengah maraknya berita mengenai bakteri Enterobacter Sakazakii yang mencemari berbagai produk susu formula dan makanan instan untuk bayi dan balita (yang hasil penelitiannya sebenar sudah dirampungkan oleh para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dilaporkan kepada BPOM sejak tahun 2006), Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan ajakan untuk kembali ke Air Susu Ibu (ASI) sebagai satu-satunya sumber nutrisi yang terlengkap dan terbaik untuk bayi dan balita.

Ketua AIMI Mia Sutanto dalam siaran persnya mengatakan, bukti yang menguatkan pernyataan tersebut semakin tak terbantahkan. “Nutrisi dan kalori yang terkandung di dalam ASI sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, jadi tak perlu tambahan susu formula apapun” katanya di Jakarta, kemarin (26/2).

ASI mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air garam dan gula yang semuanya sudah secara khusus dikomposisikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing bayi. Lebih lanjut Mia menjelaskan, ASI mengandung sel-sel hidup yang berperan sebagai zat anti infeksi dan imunitas alami untuk melindungi bayi dari berbagai ancaman penyakit. “Tentu sel-sel hidup ini tidak ada dalam produk susu formula.” katanya.

Oleh karena itu, “Bicara mengenai keunggulan ASI dibandingkan dengan susu formula sudah pasti sangat banyak, selain dari segi kandungan dan kecukupan nutrisi, kemudian faktor imunitas atau perlindungan tubuh, juga dari segi kedekatan ibu dan anak (bonding) yang tak akan tertandingi oleh apapun,” tambahnya.

Mia kemudian melanjutkan, AIMI akan secara konsisten terus menyerukan kepada seluruh ibu-ibu di Indonesia untuk kembali memberikan ASI kepada bayinya. “Jangan mempertaruhkan masa depan bayi-bayi Indonesia dengan tidak memberikan ASI, yang sudah terbukti merupakan makanan yang paling bagus, paling lengkap dan paling higienis untuk dikonsumsi oleh bayi.”

Memberikan ASI sebagai satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi, lanjut Mia, memang membutuhkan persiapan khusus sejak masa kehamilan. “Namun semua proses persiapan untuk memberikan ASI bisa dilakukan dengan mudah karena bekal utamanya hanyalah pengetahuan yang memadai dan pikiran positif dan niat si ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya serta dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sesuai dengan rekomendasi WHO/UNICEF dan juga Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), untuk bayi harus diberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama dan kemudian dilanjutkan dengan MPASI (makanan pendamping ASI) yang berkualitas. ASI diteruskan hingga 2 tahun atau lebih sesuai dengan keinginan ibu dan bayi.

Selanjutnya, karena ASI bisa memenuhi kebutuhan kalori sebesar 100% untuk bayi yang berusia 0-6 bulan, 70% untuk usia bayi 6-12 bulan dan 30% untuk usia anak diatas 12 bulan, maka pemberian susu tambahan setelah masa ASI Eksklusif juga tidak diperlukan. “Saat ini masih banyak ibu yang berpendapat bahwa setelah masa ASI Eksklusif pemberian susu formula untuk bayi diatas 6 bulan atau diatas 1 tahun menjadi kebutuhan wajib, padahal selama anak masih mendapatkan ASI hal tersebut tidak diperlukan,” tandasnya. Mia kemudian menambahkan bahwa, apabila karena sesuatu hal orangtua memilih untuk memberikan susu formula kepada bayinya, ada 3 hal yang perlu diingat, “Susu formula bukanlah produk yang steril, tidak ada satupun susu formula yang komposisi dan kualitasnya mendekati ASI, dan pemberian susu formula bukannya tanpa resiko,” tegasnya.

AIMI juga sangat menyayangkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari bahwa temuan IPB ini merupakan salah satu bentuk perang produk. “Sangat tidak pada tempatnya Menteri Kesehatan yang seharusnya menyikapi temuan ini dengan arif dan mencermatinya secara positif, malah mengeluarkan pernyataan prematur yang cenderung bersifat defensif dan memihak pada produsen susu formula dengan mendiskriditkan temuan tersebut,” tegas Mia. Seharusnya dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kesehatan, tujuan utamanya adalah melindungi kepentingan masyarakat (bukan kepentingan pengusaha) dengan segera menindaklanjuti temuan tersebut dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah timbulnya keresahan serta terjadinya kerugian yang lebih besar pada masyarakat. *******

Contact Person AIMI:

Mia Sutanto, Ketua

mia.sutanto@aimi-asi.org

HP: 0815 1000 2584

Yuyuk Andriati, Divisi Komunikasi

yeye@aimi-asi.org

HP: 0811 971509

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)

Graha MDS Lt.3

Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34

Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta

www.aimi-asi.org

Minggu, 24 Februari 2008

Teknik Menyelesaikan Masalah Si Kecil


25 January 2008

Saat si Kecil mulai memasuki usia sekolah, ia akan menghadapi berbagai hal baru. Ia akan belajar bergaul dan berinteraksi dengan orang selain keluarganya. Di masa inilah, ia akan menghadapi berbagai tantangan dan masalah. Tentunya sebagai orang tua, kita tidak bisa selalu melindungi mereka dari hal-hal ini. Karenanya, kita perlu mengajar mereka untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah yang mungkin akan mereka hadapi, agar mereka tidak mengalami kesulitan dalam perkembangan sosial mereka.

Yang kita bisa ajarkan pada si Kecil untuk membantu mereka menyelesaikan masalah adalah mengajarkan mereka untuk mengetahui hak dan kewajiban mereka sendiri. Ini sangatlah penting saat mereka berinteraksi dengan teman-teman di sekolah atau teman sebaya di grup bermain mereka. Ajarkan mereka untuk belajar bertanggung jawab atas mainan, barang, makanan yang mereka miliki, ajari mereka untuk menjaganya dengan baik dan pada saat yang bersamaan, ajarkan mereka untuk tidak merebut atau mengambil hak temannya (mainan, barang, makanan, dll). Selain itu, beritahukan pada mereka untuk tidak membiarkan temannya merampas hak mereka, dan bila ada yang berbuat semena-mena, ajarkan mereka untuk melaporkan kepada otoritas seperti guru, pengasuh, orang yang lebih dewasa dan lain lain.

Hal lain yang bisa kita ajarkan kepada mereka adalah untuk belajar sopan terhadap orang lain, yang dimulai tentunya dari keluarga mereka sendiri. Biasakan mereka untuk meminta izin, untuk mengatakan, “Tolong” bila mereka membutuhkan sesuatu (contohnya, “Mama, tolong ambilkan mainanku, dong.”) Ajarkan mereka untuk tidak menyerobot saat sedang mengantri lift atau eskalator di tempat umum. Ajarkan mereka untuk tidak menjerit-jerit dan mengganggu di saat mereka sedang di tempat umum, dan mengkomunikasikan keinginan mereka dengan sopan, dan bukan dengan mengamuk atau membuat kekacauan.

Tentunya, untuk melatih mereka teknik menyelesaikan masalah yang baik, tidak ada salahnya kita ajarkan untuk berpikir kreatif. Lewat berbagai permainan yang menyenangkan, si Kecil bisa kita bantu untuk berpikir lebih kreatif yang bisa dapat membantu mereka untuk menyelesaikan berbagai masalah yang mungkin mereka akan hadapi. Dan hal yang paling baik yang bisa kita ajarkan kepada mereka tentunya adalah bahwa mereka harus memperlakukan semua orang seperti diri mereka sendiri. Dengan begitu, mereka akan sejak dini belajar untuk berperilaku yang baik, menjadi anak-anak yang punya budi pekerti dan bisa berinteraksi dengan normal sehingga membatasi kesulitan mereka untuk menyesuaikan diri di dunia luar.

www.nutrisibalitacerdas.com

Senin, 18 Februari 2008

Deven makin banyak banget ngomongnya..

kemarin hujan-hujan dia liat kodok... dan dia bilang doooo.. dooooo.. maksudnya kodok... yang lain masih banyak tapi lupa hehehe

Senin, 11 Februari 2008

Deven Speech Development

deven has spoken a few new words such as ukaaa for buka, misal ada botol disuruh buka tutupnya, terus eeee.. untuk BAB, auuu for mauuu.. misal auu ngung artinya mau minum. kalo malem2 kebangun biasanya langsung nangis sekarang ga nangis lagi tapi bilang nen.. nen.. minta nenen..